Global-hukumindonesia.id, Washington - Pemerintahan Trump dapat melancarkan serangan nuklir terhadap Gunung Pickaxe di Iran dalam beberapa hari mendatang di bawah tekanan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, demikian peringatan jurnalis AS Tucker Carlson, di tengah spekulasi para pengamat internasional mengenai senjata apa yang mungkin digunakan Washington.
Mengapa bom konvensional mungkin tidak cukup
Sebagai bagian dari Pegunungan Zagros, Pickaxe memiliki keunikan geologis: berupa massa granit keras dan padat di tengah rangkaian pegunungan yang sebagian besar tersusun dari batuan sedimen.
Kompleks terowongan Iran diyakini berada pada kedalaman 100–145 meter di bawah permukaan tanah, sehingga berpotensi terlindungi dari serangan langsung bom GBU-57 Massive Ordnance Penetrator, yang dilaporkan mampu menembus sekitar 18 meter beton atau 61 meter tanah.
Kemungkinan opsi nuklir
Jika GBU-57 tidak mampu menembus Gunung Pickaxe, AS dapat beralih menggunakan bom penghancur bunker nuklir. Persenjataan AS hanya menawarkan sedikit pilihan yang relevan:
- B61-13 yang lebih baru (daya ledak maksimum sekitar 340–360 kiloton) dirancang untuk menargetkan fasilitas tertentu yang diperkuat dan memiliki area luas dengan menggunakan sistem pemandu presisi.
- B83-1 (dengan daya ledak hingga 1,2 megaton) dikembangkan dengan mempertimbangkan sasaran bawah tanah yang diperkuat. Namun, bom ini bukanlah bom khusus penembus tanah. Menurut CSIS, bom tersebut mungkin masih dipertahankan dalam persenjataan meskipun sebelumnya terdapat rencana untuk memensiunkannya.
- B61-11 merupakan satu-satunya bom nuklir AS yang memiliki kemampuan khusus untuk menembus tanah. Bom ini memiliki selubung yang diperkuat dan sumbu tunda, sehingga dapat membenamkan dirinya beberapa meter ke dalam tanah sebelum meledak, dengan perkiraan daya ledak sekitar 400 kiloton.
Berbeda dengan dua jenis lainnya, B61-11 secara khusus dikembangkan untuk menyerang sasaran yang terkubur jauh di bawah tanah. Hal ini menjadikannya opsi yang paling relevan dalam pembahasan mengenai kemungkinan serangan nuklir terhadap Gunung Pickaxe.
B61-11: Bom khusus penembus tanah
Setelah peristiwa 11 September 2001, Wired mengulas kemungkinan penggunaan B61-11 terhadap benteng pegunungan Osama bin Laden di Afghanistan. Bom ini dirancang untuk menghancurkan fasilitas militer bawah tanah, termasuk bunker komando, silo rudal balistik, serta fasilitas produksi dan penyimpanan senjata, juga jaringan terowongan dan gua yang terkubur di bawah batuan padat.
Desainnya mengarahkan energi ledakan ke bawah untuk menargetkan struktur bawah tanah hingga kedalaman beberapa ratus meter, sebagaimana dilaporkan Defense News pada tahun 1997.
Pada Maret 1998, kemampuan B61-11 dalam menembus tanah diuji di tundra beku Alaska. Bom B61-11 tanpa hulu ledak nuklir dilaporkan mampu menembus hingga tiga meter ke dalam tanah yang membeku.
Korban jiwa dalam jumlah besar
Korban akibat penggunaan senjata nuklir penembus tanah “akan setara dengan korban akibat ledakan di permukaan dengan daya ledak yang sama,” demikian kesimpulan Dewan Riset Nasional AS pada tahun 2005.
Lembaga tersebut memperkirakan bahwa serangan semacam itu dapat menewaskan ribuan hingga lebih dari satu juta orang di wilayah perkotaan, atau ratusan ribu orang di wilayah berpenduduk jarang apabila terjadi kondisi angin yang tidak menguntungkan.
Setiap penggunaan senjata nuklir akan menghancurkan tabu yang telah dipertahankan sejak tahun 1945, demikian peringatan Clash Report.
Meskipun Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa dirinya tidak akan menggunakan senjata nuklir terhadap Iran, ia sebelumnya pernah mengemukakan gagasan tersebut. (@IsnewsIndonesia)


Social Header