Global-hukumindonesia.id, Jakarta - Sebuah poster silsilah yang beredar luas di media sosial tengah menjadi perbincangan hangat. Poster itu menampilkan alur keturunan yang disebut tersambung dari Kesultanan Banten hingga ke Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto, Kapolri ke-26 Republik Indonesia, melalui jalur sang ibunda Hj. Mardiati.
Bukan sekadar gambar, poster tersebut disusun seperti peta sejarah: dimulai dari masa Wali Songo, berlanjut ke era kesultanan, lalu turun ke keluarga bangsawan Banten, ulama kharismatik Pandeglang, hingga ke generasi saat ini.
Alur Silsilah dalam Poster Itu:
1. Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah): Tokoh Wali Songo sekaligus penyebar Islam di Jawa Barat.
2. Sultan Maulana Hasanuddin: Sultan Banten pertama (1552-1570) dan pendiri Kesultanan Banten, putra dari Sunan Gunung Jati.
3. Sultan Maulana Muhammad: Sultan Banten kedua yang meneruskan takhta kesultanan.
4. Keluarga Tubagus Kesultanan Banten* Garis keturunan bangsawan Banten di wilayah Pandeglang dan Lebak.
5. Syekh Muhammad Shohib Mandala Kadupinang: Ulama kharismatik terkemuka di Pandeglang, Banten.
6. Hj. Mardiati : Ibunda kandung dari Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto, yang disebut memegang trah keturunan Mandala Kadupinang.
7. Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto: Kapolri ke-26 Republik Indonesia.
*Kenapa Ramai Dibicarakan?
Bagi masyarakat Banten, silsilah ini bukan sekadar nama-nama lama. Ini tentang identitas, kebanggaan daerah, dan pengingat bahwa Banten pernah menjadi pusat peradaban Islam besar di Nusantara.
Banyak warganet yang membagikan ulang poster ini dengan rasa bangga, terutama warga Pandeglang dan Lebak yang merasa memiliki ikatan emosional dengan trah Tubagus dan Mandala Kadupinang.
Dari Masjid Banten Lama hingga Mercusuar.
Visual posternya pun sengaja dibuat megah: latar bendera Merah Putih, Masjid Agung Banten, benteng dan mercusuar Kesultanan Banten, serta sosok Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto dalam seragam kebesaran Polri.
Pesan yang ingin disampaikan jelas: kepemimpinan, pengabdian, dan nilai juang leluhur Banten masih hidup dan diteruskan hingga hari ini. (Hadi/FKWSB)


Social Header