Global-hukumindonesia.id, Bandung — Duka mendalam dirasakan Nawawi (31thn) setelah sang istri, Siti Maimunah (41thn), menjadi korban pembunuhan yang jasadnya ditemukan dalam kondisi terbungkus kardus di Kota Bandung, Jawa Barat.
Jenazah Siti Maimunah ditemukan di kawasan Jalan Terusan Suryani–Soekarno Hatta, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung. Kepergian perempuan tersebut meninggalkan luka mendalam bagi keluarga, khususnya sang suami.
Nawawi yang selama ini tinggal di sebuah rumah kontrakan sederhana di kawasan Jalan Mangga, Kelurahan Pasir Gintung, Kecamatan Tanjungkarang Barat, Bandar Lampung, mengaku tidak pernah menduga perjalanan istrinya untuk mencari pekerjaan justru berakhir tragis.
Menurut Nawawi, sebelum berangkat, Siti Maimunah hanya menyampaikan rencana untuk bekerja di sebuah toko sembako di Jakarta. Ia tidak pernah mendapat informasi dari istrinya bahwa Siti akan pergi ke Bandung.
"Pada saat itu istrinya Siti Maimunah hanya meminta izin bekerja di toko sembako di Jakarta. Istri tidak ada izin sama sekali ke Bandung, cuma izinnya ke Jakarta mau kerja di tempat sembako", ungkap Nawawi.
Kabar mengenai kondisi istrinya kemudian membuat Nawawi terkejut. Ia sama sekali tidak menyangka akan menerima kabar bahwa perempuan yang selama ini mendampinginya telah meninggal dunia dalam keadaan mengenaskan.
Di tengah rasa kehilangan, Nawawi mengingat Siti sebagai sosok yang pendiam, sederhana dan penurut. Keduanya mulai mengenal satu sama lain melalui media sosial Facebook pada 2020 dan kemudian menjalani kehidupan rumah tangga bersama di Bandar Lampung.
Sejumlah kenangan sederhana bersama keluarga kini menjadi bagian yang paling dirindukan Nawawi. Salah satunya kebiasaan mereka menghabiskan waktu bersama pada sore hari atau malam Minggu dengan mengendarai sepeda motor menuju pasar sore.
"Kami setiap sore atau malam Minggu, kami kerap menghabiskan waktu bersama mengendarai sepeda motor ke pasar sore", tuturnya.
Kebahagiaan keluarga juga kerap hadir melalui momen sederhana ketika mereka mengajak putri kecilnya yang masih berusia tiga tahun bermain odong-odong.
Bagi Nawawi, kebersamaan tersebut kini menjadi kenangan berharga yang tidak akan pernah terlupakan.
"Paling berkesan orangnya nurut, kalau disuruh pijitin mau. Momen paling romantis ya kalau sore atau malam Minggu jalan-jalan naik motor ke pasar sore, anak naik odong-odong. Itu kenangan yang tak terlupakan", katanya.
Sebelum kabar duka datang, Siti Maimunah juga sempat beberapa kali menghubungi suaminya melalui WhatsApp. Dalam komunikasi tersebut, Siti mengeluhkan kondisi tubuhnya yang sedang tidak baik.
Ia mengaku merasa lemas dan mengalami gangguan pencernaan. Kepada Nawawi, Siti juga sempat menyampaikan keinginannya untuk kembali ke kampung halaman mereka di Desa Sangun Ratu, Kecamatan Pubian, Lampung Tengah.
"Istri bilang ke saya mengaku lemas dan mengalami gangguan pencernaan, sekaligus mengutarakan kerinduannya untuk pulang ke kampung halaman di Desa Sangun Ratu, Kecamatan Pubian, Lampung Tengah", ujar Nawawi.
Kini, Nawawi hanya bisa berharap proses hukum terhadap pelaku berjalan tuntas. Ia meminta aparat penegak hukum memberikan hukuman yang setimpal atas perbuatan yang telah merenggut nyawa istrinya.
"Saya pastinya sangat terpukul. Kenapa tega sekeji itu membunuh, saya harap pelaku dihukum seberat-beratnya", tegas Nawawi. (redaksimghijabar@gmail.com/Agus Heri Mulakir)


Social Header