Global-hukumindonesia.id, Cianjur — Kenaikan harga berbagai bahan baku membuat pedagang kaki lima harus memutar otak agar usaha tetap berjalan. Harga tepung terigu, tepung aci, ayam, telur, minyak goreng, cabai, bawang, sayuran, bumbu, hingga gas LPG menjadi beban tambahan bagi pedagang yang setiap hari harus menyediakan modal.
Di sisi lain, pedagang tidak bisa begitu saja menaikkan harga jual. Daya beli masyarakat menjadi pertimbangan karena kenaikan harga makanan dikhawatirkan membuat pelanggan mengurangi pembelian.
Seorang pedagang mengungkapkan, kondisi tersebut membuat keuntungan yang diperoleh semakin tipis.
"Kalau harga jual dinaikkan, takut pembeli keberatan. Tapi kalau harga tetap, keuntungan makin sedikit. Modal terus bertambah, sementara pembeli belum tentu ramai", keluhnya.
Kondisi serupa dirasakan pedagang makanan berbahan ayam, gorengan, nasi, seblak, cireng, cilok, batagor, dan berbagai jajanan lainnya. Selain bahan utama, mereka juga harus memperhitungkan minyak goreng, tepung, telur, bumbu, gas, kemasan, serta kebutuhan operasional lainnya.
Sebagian pedagang memilih mengurangi keuntungan agar harga jual tetap terjangkau. Ada pula yang menyesuaikan ukuran porsi, mencari bahan dari pemasok dengan harga lebih murah, hingga mengurangi jumlah produksi ketika kondisi dagangan sedang sepi.
"Kami sebenarnya ingin mempertahankan harga supaya pelanggan tetap bisa membeli. Tetapi biaya belanja semakin besar. Kalau dihitung semuanya, keuntungan yang tersisa tidak banyak", ujar pedagang lainnya.
Para pedagang berharap harga bahan baku dapat lebih stabil dan daya beli masyarakat kembali meningkat. Bagi mereka, berjualan bukan hanya soal mencari keuntungan, tetapi juga menjadi sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus memutar modal setiap hari.
Di tengah kenaikan berbagai kebutuhan tersebut, pedagang kaki lima kini harus menghadapi tantangan ganda: modal yang semakin besar dan pembeli yang harus tetap dijaga agar tidak kehilangan pelanggan. (Agus Heri Mulakir)


Social Header