Global-hukumindonesia.id, Indonesia - Sayyidah Hadijah Al-Kubra as wafat 3 hari setelah wafatnya Sayyidina Abu Thalib pada tahun yang sama.
Wafatnya Sayyidah Hadijah Al-Kubra dan Sayyidina Abu Thalib kw dalam waktu yang sama, benar-benar membuat sedih Nabi Muhammad saww dan orang-orang beriman.
Maka tahun tersebut disebut sebagai 'Amul Huzni atau tahun bersedih dan berduka, dan merupakan tahun yang berat bagi Nabi Muhammad saww.
Betapa tidak, kedua permata Nabi Muhammad saww dan yang merupakan pendukung dan pembela gigih Nabi Muhammad saww dalam mendakwahkan agama islam wafat di tahun yang sama yakni tahun ke 10 kenabian.
Pada akhir-akhir masa hidupnya, Sayyidah Hadijah Al-Kubra as terbaring diatas tempat tidur sederhananya dalam keadaan sakit, kemudian Nabi Muhammad saww datang menemaninya dan ketika itu beliau memandangi Nabi Muhammad saww lalu menangis.
“Ada apa wahai Hadijah?”, tanya Nabi Muhammad saww.
Sayyidah Hadijah as menjawab, “Aku belum berbakti kepadamu duhai Rasulullah".
Jawab Nabi Muhammad saww, ”Tidak…tidak..! Engkau telah mengeluarkan semua yang engkau miliki di jalan Allah".
Lalu Sayyidah Hadijah as memanggil Sayyidah Fatimah Az-Zahra as seraya berkata, “Duhai Putriku, aku merasa ajalku akan datang, dan aku takut sekali akan siksa kubur. Maka mintakanlah kepada ayahmu surbannya yang digunakan saat menerima wahyu untuk kafanku, sesungguhnya aku malu untuk meminta kepadanya".
Kemudian Asma’ datang menemani beliau, kemudian beliau menangis ketika menatap wajah putrinya Fatimah as.
Asma’ bertanya kepada Sayyidah Hadijah as, “Mengapa engkau menangis, sementara bagimu surga dan segala kenikmatannya?”
Sayyidah Hadijah berkata, “Wahai Asma’, sebagai seorang ibu aku tak tega melihat putriku. Nanti ketika dia menikah tak akan ada yang menemaninya dirumah yang asing, dia sendirian disana".
Lalu beliau menangis dan Asma’ bersumpah untuk menggantikan posisi beliau jika masih ada umur.
Di kemudian hari, pada hari pernikahan Sayyidah Fatimah Az-Zahra, Nabi Muhammad saww sendiri yang menggiring onta yang ditumpangi Fatimah as menuju rumah Imam Ali bin Abi Thalib kw.
Kemudian Nabi Muhammad saww menyuruh semua orang keluar dari rumah karena Nabi Muhammad saww akan berdoa untuk kedua mempelai.
Ternyata dipojok rumah ada seorang wanita berjubah hitam yang tidak keluar.
Nabi Muhammad saww berkata, “Apakah engkau tidak mengetahui bahwa aku menyuruh semua orang keluar?”
Wanita itu menjawab, “Maaf ya Rasul, bukannya aku mau melanggarmu, akan tetapi aku telah berjanji kepada Hadijah untuk menemani putrinya dihari pernikahannya sampai akhir…”.
Mendengar nama Sayyidah Hadijah as disebut, Nabi Muhammad saww pun menangis dan mendoakan mereka.
Salam atasmu duhai Sayyidah Hadijah binti Khuwailid..
Salam atasmu duhai Wanita Agung Kekasih sejati Rasul teragung..
Salam atasmu duhai salah satu wanita dari empat wanita termulia di surga..
Salam atas Sayyidah Hadijah Al-Kubra as ketika dilahirkan, di saat menjemput kematian dan di saat kelak dibangkitkan. (*)


Social Header