Global-hukumindonesia.id, Jawa Timur - Tuhan berfirman dalam Kitab Sucinya:
قد افلح من زکاها و قد خاب من دساها.
Sungguh beruntung orang yang menyucikan dirinya dan sungguh merugi orang yang mengotorinya (Al-Qur'an Surah As-Syams).
Dengan tazkiyah nafs akan diperoleh kesucian dan kebersihan jiwa (hadits).
Seorang pesalik mestilah banyak diam, menutup mata dan telinga serta menghilangkan kecintaan pada jasad diri dan dunia materi. Puasa di bulan ramadhan merupakan pintu lebar yang dibuka Tuhan untuk membersihkan dan menyucikan diri.
Betapa tidak, dalam bulan ramadhan sebulan penuh para pesalik di jalan Tuhan akan ditempa dari berbagai penahanan jiwa terhadap berbagai kenikmatan, kelezatan, dan hal-hal yang mengotori jiwa. Bahkan disiang harinya kenikmatan dan kelezatan yang sangat ringan pun berupa makan dan minum menjadi pembatal daripada puasa.
Dan tentunya seorang salik yang ingin mencapai kedekatan Allah SWT beserta maqam maknawiah, mestilah berpaling dari berbagai kenikmatan dan kelezatan materi lainnya yang menjadi pembatal puasa salik, terutama yang dilakukan oleh mulut, mata, dan telinga. Bahkan daya imajinasi pun mestilah dicegah dari hal yang membatalkan puasa maknawiah.
Rumi berkata, "katupkan bibirmu, tutup telingamu, dan pejamkan matamu; bila engkau tak menyaksikan "Sirr" daripada Hak SWT maka tertawakanlah kami (Matsnawi),
Penyaksian "sirr" adalah penyaksian wahdah, yang hanya dapat diperoleh dengan jalan tazkiyah dan tahzib nafs; mengatupkan mulut, menutup mata serta telinga. Mujahadah ini tdk lain adalah mengangkat diri dari kejamakan dan multiplisitas menuju realitas wahdah dan unitas.
Jalan ini mungkin hanya bisa ditempuh jika kita mempuasakan diri dan menjauhi dari berbagai kesibukan, kelezatan, dan kenikmatan materi.
Jika manusia sudah jadi ahlinya niscaya ia akan menyaksikan realitas-realitas segala sesuatu sebagai mana adanya. Sebagaimana doa dari sang baginda Nabi SAW, salam dan shalawat kita haturkan padanya beserta Itrah sucinya, "Ya Tuhan! Tunjukkanlah padaku realitas-realitas dari benda-benda sebagaimana adanya.
Semoga puasa kita di bulan suci ramadhan ini dapat membawa kita lebih dekat lagi pada Allah Swt. Amin ya Rabbal aalamin!
📖Puasa dan Menahan Hawa Nafsu
وَ أمَّامَن خافَ مَقَامَ رَبِّهِ،وَنَهَي النَّفسَ عَنِ الهَوَی. فَإِنَّ الجَنََّهَ هِيَ المَأوَي.
"Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan hawa nafsunya maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya" (Qs: An-Naziaat: 40-41).
Urafa mempunyai permisalan yang bagus tentang bulan-bulan dalam tahun, yaitu ibarat 12 putra-putra Nabi Ya'qub as, dimana di antara mereka adalah Nabi Yusuf as menjadi pilihan Tuhan dan karenanya Tuhan mengampuni 11 saudara-saudaranya yang lain.
Bulan ramadhan juga di antara 12 bulan yang ada merupakan bulan pilihan, karena ia adalah bulan rahmat dan ampunan, bulan penyucian dan penyempurnaan diri, serta bulan diturunkannya Al-Qur'an dan lailatul qadr. Karena itu bulan ramadhan sungguh menjadi bulan penetralisir dan pengendali hawa nafsu manusia yang telah mengotori 11 bulan lainnya. Jadi bulan suci ramadan adalah bulan tazkiyah, taubah, dan istigfar. Suatu bulan yang menjadi wasilah bagi kaum muslimin untuk menata dan membenahi kembali dirinya lewat taubah dan tazkiyah.
Puasa adalah memusnahkan hawa nafsu, memadamkan api syahwat dan api angkara murka, sehingga dapat menjadi hamba taat dan tawadhu.
Hakikat puasa adalah muraqabah atas segala yang akan menggelincirkan manusia dari suluknya kepada Hak Swt. Puasa memiliki tingkatan dari sekedar menahan makan dan minum, menahan lima indera ditambah menahan tangan dan kaki, hingga menahan pikiran dan qalbu dari selain Hak Swt.
Tentang keutamaan puasa, Allah berkata:
ألصَّومُ لي وَأََنَا أجزي بِهِ
Puasa adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.
Kendatipun semua ibadah untuk-Nya dan sebagaimana Ka'bah adalah rumah-Nya, padahal seluruh alam adalah milik-Nya.
Kekhususan puasa karena ia pengendali dan pencegah potensi-potensi buruk untuk mengaktual, ia juga tertutup untuk tertimpa penyakit riya, dan sebagai perisai dari api neraka, sebagaimana sabda Nabi Saw:
الصوم جنه من النار
"Puasa adalah perisai dari api neraka".
Dan ini semua karena puasa memusnahkan perkara yang mencegah manusia dari ketaatan dan kehambaan, yaitu syahwat, sementara alat bantu syahwat adalah kekenyangan, dan puasa sendiri adalah menjauhi kekenyangan.
Ya Tuhan, janganlah jadikan lapar dan hausku ini sekedar lapar dan dahaga, tapi jadikanlah ia sebagai lapar dan dahaga untuk taat, munajat, kerinduan, dan kecintaan pada-Mu. Ilahi Amin!
Puasa dan Cinta,
Salah satu refleksi dari puasa adalah membangun cinta sejati; cinta Ilahi yang bertajalli dalam bentuk jiwa kasih kepada sesama dan pengorbanan terhadap orang-orang yang menderita. Karena itu kita saksikan, rangkaian setelah Ibadah Puasa adalah Ibadah Zakat Fitrah. Yakni setelah Allah melatih diri kita untuk peka diri terhadap permasalahan mendasar lahiriah dalam hidup ini, Allah pun kemudian memerintahkan kita untuk mengimplementasikan kepekaan tersebut dalam bentuk Zakat Fitrah.
Cinta dalam Al-Qur’an ditemukan penggunaannya yang kadang menyifatkan hubungan sangat erat antara mukmin dengan Tuhan atau hubungan antara mukmin satu dengan mukmin lainnya. Misalnya ayat, "Orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah" (QS. Al-Baqarah: 165)
Dalam ayat 9 Surah Al-Hasyr digambarkan kecintaan mukmin kepada mukmin lainnya, yakni kaum Anshar terhadap kaum Muhajirin:
“Dan orang-orang (Anshar) yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin) atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran maka mereka itulah orang-orang yang beruntung" (QS. Al-Hasyr: 9).
Dalam riwayat disebutkan bahwa Buraid berkata, saya berada bersama Imam Baqir, seorang musafir dari Khurasan (Negeri Persia) yang telah melewati perjalanan panjang dengan berjalan kaki untuk dapat berjumpa dengan Imam Baqir as. Ia melepaskan sepatunya dan kakinya mengalami luka-luka. Dia berkata, “Demi Tuhan, Dia tidak membawaku dari tempat di mana saya datang kecuali kecintaan terhadapmu, Ahlulbait".
Imam Baqir berkata, “Demi Tuhan, jika sebongkah batu cinta pada kami, maka Tuhan akan mengumpulkannya bersama kami.” Lantas beliau berkata, “Apakah agama itu sesuatu selain cinta?...”.
Wahai orang-orang berpuasa, bangunlah agama ini dengan Cinta, karena dengan cinta kita dapat memandang hidup ini damai dan membahagiakan.
Puasa lahir dan batin adalah konsep ibadah komprehensif yang menggabungkan kepatuhan syariat (fisik) dengan pensucian jiwa (spiritual). Secara lahir, puasa menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Secara batin, puasa menahan hati dan pikiran dari penyakit hati seperti riya, suuzan, dan amarah, guna mencapai ketakwaan sejati.
Berikut adalah rincian puasa lahir dan batin:
Puasa Lahir (Fisik/Syariat):
Memenuhi rukun dan syarat sah puasa (niat, menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri).
Mencegah anggota tubuh dari perbuatan maksiat.
Menjaga kesehatan fisik dan kedisiplinan pola makan.
Puasa Batin (Spiritual/Hakikat):
Menahan pandangan dari hal yang diharamkan.
Menjaga lisan dari gibah, dusta, dan perkataan sia-sia.
Membersihkan hati dari sifat iri, dengki, sombong, dan riya.
Meningkatkan fokus ibadah, zikir, dan mendekatkan diri kepada Allah.
Tujuan Puasa Lahir dan Batin
Puasa yang sempurna (lahir dan batin) bertujuan untuk mendidik manusia menjadi insan yang bertaqwa (tattaqun), sabar, dan memiliki empati sosial yang tinggi. Puasa ini melatih kontrol diri atas ego dan nafsu duniawi agar lebih dekat dengan Sang Pencipta. ( Ustadz Torik)


Social Header