Breaking News

Gelar Musda XI Golkar Bangka, Hidayat Arsani Katakan Saya Cari Kader Petarung Bukan Kader Pecundang

Global-hukumindonesia.id, Sungailiat - Genderang perang politik mulai ditabuh kencang oleh DPD Partai Golkar Bangka Belitung. Dalam gelaran Musyawarah Daerah (Musda) XI Partai Golkar Kabupaten Bangka, bertempat di Gedung ST 12 Sungailiat, Kabupaten Bangka, Senin (16/2/2026).

Ketua DPD Golkar Babel sekaligus Gubernur Babel, Hidayat Arsani, mengeluarkan pernyataan pedas yang membakar semangat sekaligus peringatan keras bagi para kadernya.

​Dengan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos namun penuh otoritas, Hidayat Arsani, dengan gelar Panglima menegaskan bahwa demokrasi di tubuh Golkar bukan sekadar kumpul-kumpul, melainkan wadah memperbaiki cara musyawarah dan mufakat demi kemenangan besar.

​Hidayat Arsani memberikan tamparan keras bagi dinamika politik masa lalu. Ia menegaskan tidak ingin lagi melihat Golkar kehilangan taring di Bangka Belitung. Targetnya jelas, rebut kursi pimpinan dan tambah perolehan suara secara signifikan.

​”Kita harus menambah suara dan menduduki kursi lagi. Bila perlu, langkah satu kita akan rebut! Jangan sampai Golkar menjual kotak kosong lagi di Bangka Belitung ini. Itu adalah perbuatan yang memalukan!” tegas Hidayat dengan nada tinggi.

​Ia menekankan bahwa kader terbaik sudah disiapkan untuk posisi Bupati hingga Wali Kota, sehingga tidak ada alasan bagi partai berlambang pohon beringin ini untuk absen dalam kontestasi.

Tak hanya bicara target, Hidayat juga menyoroti kedisiplinan organisasi. Ia mengaku tidak segan-segan mengambil tindakan ekstrim jika ada kader, termasuk anggota dewan, yang mencoba menjadi provokator atau menghambat jalannya Musda.

​”Apabila ada anggota dewan atau siapapun menjadi provokator, saya berhak menonaktifkan. Di dalam aturan, kalau bersalah, kita bisa ‘nonjobkan’ (menonaktifkan). Selama kita nonaktifkan, dia tidak bisa bergerak ke mana pun", ujarnya lugas.

​Menurutnya, konsolidasi yang dilakukan di tujuh kabupaten/kota harus berjalan linear dengan perintah pimpinan pusat dan daerah. Baginya, kepentingan masyarakat jauh di atas kepentingan pribadi atau kelompok kecil di dalam partai.

​Menanggapi isu keributan di beberapa wilayah seperti Pangkalpinang dan Bangka Selatan (Basel), Hidayat menanggapi dengan santai namun tegas. Menurutnya, keributan dalam demokrasi adalah hal biasa, asalkan setelah keputusan diambil, semua harus merapat dalam satu barisan.

​”Yang lama tidak kuat kita rangkul supaya kuat. Kita ingin mengejar target. Kalau ada pasukan kiri-kanan kaki sakit, kok dipaksa main bola? Yang tidak mau ikut, silakan keluar dari Partai Golkar!”, cetusnya.

​Ia berpesan kepada ketua terpilih nantinya untuk segera melakukan kaderisasi dan merangkul semua, Hidayat menegaskan dirinya sebagai end user hanya menginginkan orang-orang yang siap bekerja dan patuh pada perintah positif partai demi kesejahteraan rakyat pungkasnya. (Ali Rachmansyah)
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
© Copyright 2022 - GLOBAL HUKUM INDONESIA