Breaking News

Sayidina Ali bin Abu Thalib Kw Berbicara Tentang Dunia

1. Dunia yang Melenakan di Antara Nafsu dan Angan-Angan 
Wahai manusia, yang paling aku takuti tentang engkau ada dua hal: bertindak menurut hawa nafsu dan mengulurkan angan-angan. Bertindak menurut hawa nafsu itu mencegah kebenaran; dan mengulurkan angan-angan itu membuat orang melupakan akhirat. Engkau harus tahu bahwa dunia ini sedang bergerak dengan cepat dan tak ada yang tertinggal darinya kecuali zarah-zarah terakhir, seperti ampas dari sebuah mangkuk yang telah dikosongkan oleh seseorang.

Berhati-hatilah! Dunia dan akhirat sedang mendekat, dan kedua-duanya mempunyai putra-putra, yakni pengikut. Engkau harus menjadi putra-putra akhirat, karena di Hari Pengadilan, setiap putra akan melekat pada ibunya. Hari ini adalah hari beramal dan tak ada perhitungan. Tetapi, hari esok adalah hari perhitungan dan tak akan ada kesempatan untuk bertemu

2. Dunia yang Manis dan Hijau yang Bertaut Pada Si Pemandang
Dunia ini adalah suatu tempat yang fana dan penghuninya akan meninggalkannya. Ia manis dan hijau. Ia bergegas kepada pencarinya dan bertaut pada hati si pemandang. Maka, tinggalkanlah ia dengan perbekalan terbaik yang dapat engkau peroleh, dan jangan meminta di sini lebih banyak dari yang cukup, dan jangan menuntut darinya lebih dari kebutuhan hidup.

3. Dunia Laksana Bayangan yang Terbentang
Berhati-hatilah! Dunia ini adalah tempat dari mana perlindungan tak dapat dicari, kecuali sementara berada di dalamnya. Tindakan yang dilakukan semata-mata untuk dunia ini tak dapat menjamin keselamatan. Manusia dicoba di dalamnya melalui cobaan. Apa yang telah diambilnya di sini, bagi kesenangan duniawi, akan diambil darinya dengan kematian dan ia akan ditanyai tentangnya. Dan, segala perbuatan baik yang telah mereka capai untuk akhirat akan didapatkannya di sana dan tinggal dengannya. Bagi orang cerdas, dunia ini laksana bayangan: sesaat ia terbentang dan meluas, tetapi segera ia mengerut dan menciut.

4. Dunia Bukan Tempat Kediaman
Wahai para hamba Allah Swt. bertakwalah kepada Allah Swt. Dan berbekallah untuk kematianmu dengan amal kebajikan. Belilah kenikmatan abadi dengan kesenangan dunia yang fana. Bersiaplah untuk perjalanan itu, karena engkau sedang digiring. Dan, persiapkanlah dirimu untuk kematian, karena ia sedang melanglang di atasmu. Jadilah manusia yang bangun bila dipanggil dan yang mengetahui bahwa dunia ini bukanlah tempat kediaman, dan karena itu, tukarkanlah ia dengan akhirat.

5. Dunia yang Dipenuhi Bencana dan Kesedihan
Bagaimana aku harus menggambarkan dunia ini, yang permulaannya adalah kesedihan dan akhirnya adalah kehancuran? Perbuatan yang dilakukan di sini harus dipertanggungjawabkan, sedangkan bagi yang haram ada hukumannya. Yang kaya di sini menghadapi bencana dan yang miskin mendapatkan kesedihan. Orang yang serakah atasnya tidak mendapatkannya. Apabila seseorang menjauh darinya, maka ia maju kepadanya. Apabila seseorang melihat melaluinya, akan diberinya penglihatan. Tetapi, apabila seseorang menaruh matanya atasnya, ia akan membutakannya.

6. Dunia yang Rapuh dan Menipu
Sesungguhnya aku menakutkanmu dari dunia ini, karena ia manis dan hijau. Dikelilingi oleh hawa nafsu dan disukai sebab kenikmatannya yang segera. Ia menggugah rasa takjub dengan hal-hal kecil dan berhiaskan harapan-harapan palsu serta dihiasi dengan tipuan. Kenikmatannya tidak bertahan dan nestapanya tak dapat dielakkan. Ia menipu, memudaratkan, berubah-ubah, akan musnah, akan aus, akan hancur, akan habis, dan akan rusak. Bilamana ia mencapai ujung hawa nafsu dari orang-orang yang cenderung kepadanya dan merasa bahagia dengannya, kedudukan itu hanyalah seperti apa yang difirmankan Allah Swt di dalam Al Qur’an:

“Seperti air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan, adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu" (QS. Al Kahfi [18]: 45).

Tak ada orang beroleh kenikmatan dari dunia ini melainkan air mata kemudian datang kepadanya, dan tak ada orang yang mendapatkan kesenangannya di depan melainkan menghadapi kesulitan di belakang. Tak ada yang menerima hujan gerimis kemudahan di dalamnya melainkan ia mendapat curahan hujan lebat kepedihan atasnya. Hanyalah pantas dari dunia ini bahwa di pagi hari ia mendukung seseorang, tetapi di petang hari ia tidak mengenalnya.

Apabila satu sisi darinya manis dan menyenangkan, sisi lainnya pahit dan menyedihkan. Tak ada orang yang mendapatkan kenikmatan dari kesegarannya melainkan ia harus menghadapi kesulitan dari bencananya. Tak ada orang yang akan melewati petang hari di bawah sayap keselamatannya melainkan pagi harinya akan berada di bawah ujung bulu sayap ketakutan. (Torik)
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
© Copyright 2022 - GLOBAL HUKUM INDONESIA