Breaking News

Hubungan Jasad, Jiwa dan Ruh

Global-hukumindonesia.id, Jawa Timur  - Perspektif Teologis-Akhlak:
1. Jasad (badan, tubuh fisik),
Unsur materi (jism) yang terdiri dari unsur-unsur dan komponen alam.
Bersifat fana, berubah, hancur setelah kematian. Al-Qur’an: Dari bumi (tanah) Kami ciptakan kamu, ke dalamnya Kami kembalikan kamu, (QS Thaha: 55).

2. Jiwa (nafs)
Inti kesadaran manusia, tempat bersemayamnya akal, syahwat, dan hissi.
Jiwa yang memberi kehidupan pada jasad.
Al-Qur’an: Setiap nafs akan merasakan mati, (QS Ali Imran: 185).

Jiwa punya tingkatan:
a. Nafs ammarah (jiwa yang cenderung pada keburukan).
b. Nafs lawwamah (jiwa yang menyesali kesalahan).
c. Nafs muthma’innah (jiwa tenang dalam ridha Allah).

3. Ruh 
Sumber kehidupan yang ditiupkan Allah ke dalam jasad. QLebih halus dari jiwa, bersifat Ilahiah, bukan ciptaan materi.
Al-Qur’an: Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: Ruh itu urusan Tuhanku, dan kalian tidak diberi ilmu kecuali sedikit, (QS Al-Isra: 85).

*Hubungan antara Jasad, Jiwa, dan Ruh"

1. Jasad, wadah fisik.
2. Ruh, “tiupan Ilahi” yang menghidupkan.
3. Jiwa (nafs), interaksi ruh dengan jasad, yang melahirkan kesadaran, keinginan, dan kepribadian manusia.

*Perspektif Filsafat Islam*

Ibn Sina: Jiwa (nafs) adalah substansi ruhani, bukan materi, tetapi berhubungan dengan jasad untuk berfungsi di dunia. Ruh adalah prinsip kehidupan yang darinya jiwa mendapat daya.

Mulla Shadra: Jiwa berkembang bersama jasad (harakah jawhariyyah).
Awalnya jiwa “jasmaniyah al-huduth” (terlahir bersama tubuh), lalu berkembang menjadi “ruhaniyah al-baqa" (kekal setelah tubuh hancur). Jasad hanya sementara, Jiwa bertumbuh, Ruh abadi dan tetap terhubung dengan asalnya (Allah).

*Perspektif Irfan (Tasawuf)*

Ruh adalah “nafakhah rabbaniyyah” (tiupan Ilahi), asalnya suci, tidak ternoda.
Jiwa (nafs) adalah arena perjuangan: bisa condong pada ruh (menuju Allah) atau pada jasad (terikat dunia). Jasad adalah kendaraan (markab), sementara.

Arif berkata: Jasad adalah penjara, jiwa adalah tawanan, ruh adalah sinar Ilahi yang memanggil pulang.

Dengan itu, kesempurnaan manusia tercapai bila jiwa lebih condong mengikuti ruh (cahaya Ilahi) daripada jasad (hawa nafsu). 

Catatan tambahan: ada yang menganggap jiwa dan ruh sama, ada juga yang membedakannya. Dalam tafsir dan filsafat Syiah khususnya, ruh lebih tinggi derajatnya, sementara jiwa adalah level kesadaran manusia yang bisa naik turun.

Mulla Shadra dengan teorinya An-Nafs al-wahdah qullu al-quwa, menjadikan nafs dalam ketunggalannya memiliki seluruh potensi dan daya. Dalam tinjauan ini nafs dan ruh adalah satu, sedangkan yang lainnya merupakan manifestasinya (zuhurnya). (Torik)
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
© Copyright 2022 - GLOBAL HUKUM INDONESIA