Global-hukumindonesia.id, Jambi — Pemerintah memperkuat langkah antisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi dengan memanfaatkan peluang turunnya hujan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengatakan, potensi awan hujan yang diperkirakan muncul di sejumlah wilayah Jambi perlu dimanfaatkan secara optimal untuk membantu penanganan karhutla.

Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), peluang pertumbuhan awan hujan di Jambi diprediksi semakin meluas pada 10 hingga 15 September 2026.

Informasi tersebut disampaikan Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Thaha (STS) Jambi, Ibnu Sulistyono, dalam rapat koordinasi penanganan karhutla di Jambi, Selasa (2/9/2026).

Rakor tersebut dipimpin Menhut Raja Juli Antoni bersama Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto dan Gubernur Jambi Al Haris. Pertemuan juga diikuti unsur pemerintah daerah, TNI, Polri serta Manggala Agni Kementerian Kehutanan.

Saat ini, potensi awan hujan masih terbatas di beberapa wilayah. Namun, memasuki periode 10-15 September, cakupan peluang pertumbuhan awan hujan diperkirakan lebih luas.

Raja Antoni menilai kondisi tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat upaya penanganan karhutla. Menurutnya, keberadaan awan hujan dapat dimaksimalkan melalui OMC agar hujan turun di wilayah yang membutuhkan.

“Yang paling efektif itu OMC. Baik hujan alami maupun OMC, hujan. Karena hanya dengan OMC itu persoalan karhutla dapat diselesaikan", kata Raja Antoni.

Meski kondisi karhutla di Jambi secara umum dinilai relatif terkendali, pemerintah tetap mewaspadai peningkatan titik panas (hotspot).

Raja Antoni mengatakan, bertambahnya jumlah hotspot harus segera ditindaklanjuti dengan pengecekan di lapangan. Langkah tersebut diperlukan untuk memastikan apakah titik panas benar-benar berkaitan dengan adanya api atau fire spot.

“Ternyata pagi hari ini bertambah hotspot-nya. Fire spot-nya dicek kembali. Tadi saya sudah sampaikan pada Kepala BPBD. Relatif ya, relatif oke", ujarnya.

Menurutnya, penanganan karhutla tidak dapat hanya mengandalkan satu unsur. Pemerintah daerah, aparat keamanan, hingga masyarakat harus mengambil peran dalam menjaga wilayah masing-masing.

Karena itu, ia mengajak seluruh pihak meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat koordinasi, terutama menghadapi September yang menjadi salah satu periode penting dalam pengendalian karhutla.

“Jadi semua saya harap, Pemda, TNI, Polri, termasuk masyarakat, diharapkan bersama-sama berpartisipasi untuk mengatasi persoalan karhutla ini", tutur Raja Antoni. (DM)